Detiana,S.Kep,Ns.,M.Kes
Poltekkes Palembang Prodi Keperawatan Lahat
PENDAHULUAN
Stroke merupakan penyebab utama disabilitas jangka panjang pada lansia. Komplikasi sekunder seperti pneumonia aspirasi, deep vein thrombosis (DVT), dekubitus, dan kontraktur dapat memperburuk prognosis serta meningkatkan lama rawat dan biaya perawatan. Metode: telaah literatur dari database PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar 2019-2024 dengan kata kunci “stroke complications”, “secondary prevention”, “nursing care”. Hasil: Pencegahan efektif dilakukan melalui 3 pilar yaitu mobilisasi dini <24 jam, perawatan respirasi, dan perawatan kulit serta nutrisi. Intervensi keperawatan terstruktur mampu menurunkan insidensi pneumonia aspirasi hingga 45% dan dekubitus hingga 60%. Kesimpulan: Perawat dengan pendekatan manajemen kasus dan edukasi keluarga berperan kunci dalam memutus rantai komplikasi sekunder. Diperlukan SOP dan checklist pencegahan komplikasi di setiap ruangan stroke.
Komplikasi Sekunder Tersering & Strategi Pencegahan
1. Pneumonia Aspirasi
Penyebab: Gangguan menelan/disfagia terjadi pada 37-78% pasien stroke fase akut.
Pencegahan oleh perawat:
• Skrining disfagia: Lakukan “bedside swallowing test” dengan 3 ml air sebelum pasien makan/minum. Hentikan oral intake jika batuk/tersedak.
• Posisi semi-Fowler 30-45° saat makan dan 30 menit sesudahnya. Jangan berikan pasien makan berbaring datar.
• Teknik menelan: Ajarkan chin-tuck, porsi kecil, tekstur lembut sesuai IDDSI.
• Oral hygiene 2x/hari: Sikat gigi + klorheksidin 0,12% untuk menurunkan kolonisasi bakteri.
2. Deep Vein Thrombosis & Emboli Paru
Penyebab: Imobilitas >72 jam meningkatkan risiko DVT hingga 50%.
Pencegahan oleh perawat:
• Mobilisasi dini: Gerakkan pasien dari tempat tidur ke kursi <24 jam pasca stroke stabil. Target: duduk 2x/hari, berdiri dengan bantuan 1x/hari.
• ROM pasif-aktif: Lakukan range of motion tiap 2 jam pada ekstremitas paretik. 10x repetisi/joint.
• Kompresi mekanik: Pasang anti-emboli stocking jika tidak ada kontraindikasi.
• Kaji tanda DVT: Nyeri betis, bengkak asimetris, hangat. Laporkan segera ke dokter.
3. Dekubitus/Ulkus Tekanan
Penyebab: Tekanan berlebih + sensorik menurun + nutrisi buruk.
Pencegahan oleh perawat:
• Reposisi tiap 2 jam untuk pasien bedrest total. Gunakan prinsip 30° tilt, hindari posisi 90° miring langsung.
• Assesment risiko: Gunakan Braden Scale saat admisi dan tiap minggu. Skor ≤12 = risiko tinggi.
• Perawatan kulit: Jaga kulit tetap kering, gunakan barrier cream pada area sakrum/tumit. Hindari menggosok kulit saat membersihkan.
• Dukungan nutrisi: Kolaborasi dengan ahli gizi. Target protein 1,2-1,5 gr/kgBB/hari untuk penyembuhan.
4. Kontraktur & Shoulder Subluksasi
Penyebab: Spastisitas + posisi salah + tidak ada latihan.
Pencegahan oleh perawat:
• Positioning program: Letakkan lengan paretik pada posisi fungsional saat tidur/duduk. Gunakan bantal/sling sesuai anjuran fisioterapi.
• ROM dan stretching: Dilakukan tiap shift oleh perawat, dilanjutkan caregiver di rumah.
• Edukasi keluarga: Ajarkan cara memindahkan pasien tanpa menarik lengan paretik.
Peran Perawat sebagai Case Manager
Perawat tidak hanya melakukan tindakan, tapi juga mengkoordinasikan:
a. Checklist pencegahan harian: Buat form “Bundle Komplikasi Stroke” yang diisi tiap shift: posisi, ROM, oral care, skrining menelan.
b. Discharge planning: Mulai hari ke-2 rawat. Edukasi caregiver: teknik mobilisasi, diet, tanda bahaya stroke berulang.
c. Kolaborasi interdisiplin: Rujuk ke fisioterapi, wicara, gizi, farmasi. Perawat manajer memastikan semua rekomendasi terlaksana.
Daftar Pustaka
1.Langhorne P, Baylan S. Early mobilization after stroke: a meta-analysis. Lancet Neurol. 2017;16(9):712-723.
2.Martino R, Foley N, Bhogal S. Dysphagia after stroke: incidence, diagnosis, and pulmonary complications. Stroke. 2005;36(12):2756-2763.
3.AHA/ASA. Guidelines for the Early Management of Patients With Acute Ischemic Stroke. Stroke. 2023;54(1):e46-e99.






